EVENT LOMBA POSTER DAN SEMINAR ANTI KORUPSI MEMBUKA KERJASAMA SPONSORSHIP hub: 031-78189905/ 031-77652411/ 08573 0469 111 email: merdekacreatipe@yahoo.co.id

13 Februari 2009

Tanggulangi PKL Tanpa Penggusuran


Gubernur terpilih Soekarwo menegaskan, pasca dirinya dilantik sebagai gubernur, Kamis (12/2/2009), pihaknya adalah milik rakyat Jawa Timur. "Mari lepas baju Karsa. Sekarang, Soekarwo adalah milik rakyat Jatim. Oleh sebab itu, setelah menjadi gubernur baru, kita bisa lupakan pertentangan dan perselisihan untuk membangun Jatim," kata Soekarwo dalam orasi politiknya saat Open House di Gedung Grahadi.

Terkait program 100 hari pertamanya, Soekarwo mengatakan bakal memprioritaskan dalam pembenahan jalan-jalan pedesaan, pemberdayaan UMKM dan fokus daerah yang tidak terdampak namun dekat pusat semburan lumpur lapindo. "Sebab untuk wilayah peta terdampak sudah banyak yang mengatasi, termasuk pemerintah pusat," katanya.
Selain itu, Soekarwo juga mengatakan bila peran Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul sebagai wakilnya, bukanlah sebagai ban serep. "Saya kompak dengan Gus Ipul untuk membagi tugas agar tidak menjadi ban serep," ujarnya.
Pernyataan Soekarwo ini diamini Gus Ipul. Dan selain beberapa program prioritas itu, Soekarwo dan Gus Ipul juga berjanji akan membenahi beberapa program yang diantaranya Pendidikan, Kesehatan dan Pertanian.
Kemarin, setelah melalui perhelatan panjang, pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf resmi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur Jatim. Selepas Menteri Dalam Negeri Mardiyanto melantik pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Jawa Timur di Gedung DPRD Jawa Timur, Kamis (12/2), ribuan orang mulai dari simpatisan parpol, ulama, hingga politikus tampak memadati Gedung Grahadi. Mereka ingin menyaksikan pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Soekarwo serta Saifullah Yusuf. Di hari penobatan mereka, tamu undangan dan para simpatisan mengelu-elukan Pakde Karwo dan Gus Ipul.
Masyarakat Jatim pun berharap agar lima tahun ke depan, pasangan ini mampu membawa perubahan. Terutama di sektor ekonomi. "Semoga enggak ada obrakan becak. Mau gimana lagi, saya cuma bisa mbecak seperti ini," ujar Manan, seorang penarik becak yang mangkal tak jauh dari Grahadi.
Sopir mikrolet, Mansyur (48) mengharapkan pim pinan pemerintah Jawa Timur baru mampu membatasi jumlah sepeda motor yang semakin menjamur dan menimbulkan kemacetan di Kota Surabaya. Pasalnya, dalam lima tahun terakhir pendapatannya turun hingga 50 persen karena penumpang semakin jarang dan kemacetan kian menggila.
Harapan lain juga muncul dari Muhadi (43), pedagang sayur Pasar Wonokromo yang kini sulit mengais keuntungan karena harga kebutuhan pokok naik turun tak stabil. Dalam dua minggu terakhir, harga beberapa kebutuhan pokok bahkan naik antara 20 persen hingga 100 persen. Ia berharap harga sembako diturunkan.

APBD untuk Rakyat
Secara terpisah, dalam orasi serah terima jabatan gubernur Provinsi Jawa Timur 2009-2014, Kamis (12/2) di Gedung Grahadi, Soekarwo menegaskan kembali misinya APBD untuk rakyat. Dalam misi tersebut, pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf (KarSa) ingin menerapkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, khususnya mereka yang miskin melalui paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat ( people centered development approach).
Dalam paparannya, Karwo menangkap sinyal melalui kehidupan masyarakat Jawa Timur yang sederhana, miskin, dan tersingkir terpancar lambang daya juang orang-orang terpinggirkan. "Mereka keponthal-ponthal hidupnya di bawah bayang-bayang ketidakpastian memenuhi makanan tiga kali sehari, membiayai sekolah anak, berobat ke puskesmas saat sakit, tidur lelap, mendapatkan air bersih, dan bepergian dengan nyaman ke berbagai wilayah," ujarnya.
Karwo menyadari, realitas seperti ini sebagian muncul karena mereka terpinggirkan dalam proses kebijakan pemerintah. Berbekal keprihatinan tersebut, pasangan KarSa optimistis bahwa masih ada jalan lain demi kemakmuran wong cilik.
Kini, di awal masa jabatan KarSa, Manan, Mansyur, Muhadi, dan jutaan masyarakat Jawa Timur lainnya menunggu perwujudan kebijakan pro rakyat dari pasangan gubernur dan wakil gubernur baru. Dengan lembaran kepemimpinan baru, bayang-bayang ketidakpastian hidup masyarakat Jawa Timur diharapkan semakin sirna.
"Untuk itu, saya meminta kepada semua elemen masyarakat untuk mau membantu Karsa. Mari duduk bersama untuk merumuskan kebijakan Jawa Timur akan datang," katanya.
Tak lupa dalam orasi politiknya, Pakde Karwo mengucapkan terimakasih kepada Mahkamah Konstitusi yang telah mengambil kebijakan tepat dengan menolak gugatan kubu Kaji. Putusan tersebut berarti MK tidak merampas hak-hak demokrasi rakyat Jawa Timur. "Proses pemilihan gubernur Jawa Timur memang paling panjang, rumit, dan mahal. Banyak kerikil, namun itu hanya kerikil, bukan gunung yang susah dihilangkan," pungkasnya.
Pemprov Jatim, kata Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo, juga akan mengajak pemerintah kabupaten/kota bekerja sama menanggulangi masalah pedagang kaki lima, dengan keberpihakan pada pilihan "masih ada jalan lain tanpa penggusuran".
"Kami juga akan berupaya mencari 'jalan lain' bagi penyelesaian masalah lumpur Lapindo, baik bagi masyarakat yang terdampak langsung maupun tidak, bagi mereka yang sudah menemukan jalan penyelesaian dengan korporasi maupun di luar korporasi," katanya.
Semua upaya mencari jalan lain tersebut, lanjut Pakde Karwo, tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi untuk mencapai kesejahteraan harus ada perjuangan dan pengorbanan.
Pada kesempatan yang sama, Pakde Karwo juga mengucapkan terima kasih kepada pendahulunya yakni Gubernur Soerjo, Moerdjani, Raden Samadikoen, Ario Miliono, Suwondo, Moch. Wijono, M. Noer. Kemudian kepada mantan Gubernur Jatim, Soenandar Prijosoedarmo, Wahono, Soelarso, Basofi Sudirman, dan Imam Utomo.
"Kepada Pak Imam Utomo yang mengembangkan sikap akomodatif dan mengembangkan partisipasi masyarakat, menjadi panutan kami dalam mengembangkan sikap demokrasi partisipatoris, yang memberi tempat kepada rakyat untuk berbicara," katanya. njl



Selengkapnya »»

11 Februari 2009

Woro-woro, Euy!


It's begin!!!



Selengkapnya »»

08 Februari 2009

Matursembahnuwun, Bapak Pemimpin

Dari ujung kota kulihat sederhana tangis seorang anak. Ku datangi dia dan kutanya apa yang kau tangisi. Si anak diam membisu. Seribu diam terbungkus sedih dalam hatiku. Lalu, aku bersandar di antara dinding kota yang rapu dan berdo’a…

Tiba-tiba, seorang ibu menghampiri seorang anak kecil yang menangis tadi. “Ayo le pak Sby mumpung durung muleh. Nontok teko ngarep wae yo le. Kuwi wakeh pak polisi podo baris. Mengko diseneni yen mlebu,” kata sang ibu. Dengan sederhana sang ibu membujuk si anak. Anak itu pun manut. Tapi nampak tersimpan sedih di balik wajah lugunya.

Beribu tanya di dalam hatiku. Apa gerangan yang diharapkan anak itu? Sejenak, teringat cukilan syair bang Iwan ‘…seperti udara kasih yang telah kau berikan’. Mungkin itu yang di harapkan anak tentang sosok presiden. Tapi apa daya seorang anak kecil dan sang ibu yang berhimpitan dengan tubuh tegap dan kekar aparatur negara.

Apa benar bapak negriku punya sentuhan nurani tentang kaum yang sebenarnya sangat mengharapkan senyum sapa? Senyum di balik penghalang. Atau memang bapak negriku tidak punya waktu untuk bersama sama anak-anak yang memang seharusnya mendapat perhatian sebagai kitab hidup untuk memacu pribadinya sebagai generasi bangsa. Bahwa, pemimpin negriku hidup untuk kami.

*Ros-ros ing urip pun digugat abdi meniko namung sadermi… Pitutur hang luhud ingkang dalem tenggo, sami ridho palungguhanipun
*Samar sesamaripun ingkang dalem ulas alisi supadosipun wujud padang pepadangipun. Jemembar jembaripun mboten supe ananing peteng dedet.estu laku meniko ananing urip’ becik kethithik olo ketoro’ sanes aksoroipun...





Selengkapnya »»

Dolly, Oh My God...


Surabaya adalah Kota Pahlawan. Surabaya adalah Lontong Balap dan Semanggi. Surabaya adalah Dolly. Citra itulah yang tertanam di benak warga luar Surabaya, dan bahkan mungkin luar negeri. Keberadaan lokalisasi Dolly sudah menjadi bagian dari ikon Surabaya. Atau bahkan sudah menggeser ikon Surabaya Kota Pahlawan?

Sore itu, Dolly mulai menggeliat dari tidurnya. Lampu warna-warna mulai bergemerlapan. Sejumlah lelaki berperawakan besar menyiapkan dan membersihkan wisma-wisma. Ada yang menyapu, membersihkan kaca, dan bahkan mengepel lantai. Di dalam wisma, beberapa gadis muda dan seksi berdandan dan bercanda dengan sebaya. Itulah sebagian potret lokalisasi Dolly. Lokalisasi ini kini menjadi favorit karena lokasinya yang strategis. Atraksi penawaran PSK dengan memajang mereka dalam etalase kaca seperti ”ikan dalam akuarium” punya daya tarik tersendiri. Meski tak tampak ada papan nama bertuliskan ”Dolly”, daerah itu menjadi magnet yang menggaet para lelaki hidung belang.

Fantastis. Ada sedikitnya 58 wisma di Dolly. Wisma-wisma ini berlomba-lomba menawarkan ‘barang’ dagangan dengan beragam cara. Selain selalu menghadirkan ‘barang’ baru, pemilik wisma juga merekrut makelar atau calo. Jangan heran, jika setiap melintas di sini tangan Anda ditarik-tarik untuk sekadar melihat ‘barang’ yang mereka tawarkan.

Berdasarkan data yang dimiliki Yayasan Abdi Asih, jumlah PSK di sini sedikitnya 221 orang. “Kemungkinan bertambah dan kecil kemungkinan berkurang karena itu data tahun 2007,” kata Vera, aktivis Yayasan Abdi Asih, kemarin. Karena kualitas ‘barang’ lebih baik ketimbang lokalisasi lain, maka jangan heran jika tarifnya lebih mahal. Mereka mematok tarif antara Rp 75 ribu – Rp 150 ribu per jam. Semakin muda dan cantik, semakin mahal pula tarifnya.

“Terserah mau main berapa kali. Yang penting satu jam segitu,” ujar Dewi, salah satu PSK Dolly. PSK-PSK itu berasal dari penjuru Indonesia. Ada yang datang dari Bandung, Bogor, Sukabumi, dan bahkan Kalimantan. “Sekarang yang lagi ngetrend dari Sukabumi. Ceweknya cakep-cakep, bersih, dan nggak rewel,” ujar Kartono, salah satu makelar PSK di Dolly.

Usia PSK di sini banyak yang masih ‘bau kencur.’ Dalam operasi yustisi yang sering dilakukan petugas memang lebih 17 tahun. Padahal, menurut Kartono, banyak PSK yang masih berusia di bawah 17 tahun. Nah, pertanyaanya, bagaimana mereka bisa ada di sini meski masih belia?. “Semua bisa diatur mas. Sing penting lhak duwike. Nek onok dhuwik, opo sih sing gak isok diakali,” katanya sembari tersenyum.

Dia adalah Dhani (17 tahun). PSK asal Blitar ini mengaku korban penipuan seorang lelaki yang dikenalnya di terminal Bungurasih. Dua tahun lalu, ia nekat mengadu nasib di Surabaya karena kampung halamannya tak lagi bisa diharapkan. Tujuannya, bekerja di kawasan Perak di mana salah satu rekannya bekerja di sana sebagai karyawan toko. “Awalnya sedih. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kok memang lebih enak. Banyak uang dengan sedikit keringat,” katanya sembari tertawa lepas. Dalam sehari, biasanya ia melayani antara 2-3 tamu dengan tarif Rp 100 ribu. Uang yang didapat, kata dia, masih dipotong Rp 30 ribu untuk ‘maminya.’ Kalau dirata-rata, dalam semalam dia minimal mendapat Rp 140 ribu. “Kadang ada tamu yang baik dan memberi uang lebih,” katanya dengan nada melemah.

Sesaat, mata Dhani terpejam. Ditariknya selembar tisu yang ada di genggamannya. Lalu, diusapkan perlahan pada linangan air di matanya. “Semua sudah terlanjur, mas. Sekarang kalau sudah begini, mau apa lagi?,” sambungnya.

Meski dalam kondisi demikian, Dhani punya keinginan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Gadis bertubuh sintal dan sexy ini bertekad menyudahi drama ini. “Awal bekerja saya dikasih uang Rp 10 juta. Uang itu sudah habis untuk beli sapi, baju dan handphone. Dan, sekarang saya harus mengembalikannya,” akunya.

Dolly memang punya sejarah unik, lokasi strategis, dan cara menjajakan pelacur yang dramatis. Pada mulanya Dolly hanyalah kawasan pemakaman China di daerah pinggiran kota yang sepi. Tahun 1960-an, makam itu banyak dibongkar untuk dijadikan hunian. Tahun 1967, seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu. ”Dari hanya beberapa wisma, Dolly lantas berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai tahun 1980-an,” kata Sugeng, mantan germo di Dolly. Alfani


Selengkapnya »»

KaJi Ditolak MK



Lagi, Kaji menggugat Mahkamah Konsititusi (MK)
atas dugaan kecurangan pelaksanaan Pilkada Jatim putaran III. Namun, kini, gugatannya KaJi ditolak oleh MK



Selengkapnya »»

Miskin di Tanah Surga

Ini tanah surga, begitu kata Koes Plus. Kesurgaan itu terletak pada ‘tongkat kayu dan batu’ jadi tanaman. Tapi kenapa warga miskin tak kunjung surut dan kelaparan masih saja terjadi di negeri ini? Kita memang masih mencari jawab, mengapa hidup di ‘tanah surga’ kok masih bisa kelaparan.


Jika mau jalan-jalan menyusuri desa dan kampung di negeri ini, tergambar sebuah skema yang memberi kesan, ada faktor-faktor tertentu penyebab rakyat tetap miskin dan kelaparan. Itu karena ganasnya alam, karena malas, dan ada pula karena sempitnya lapangan kerja.

Untuk kategori pertama dan kedua saya temui di Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Daerah ini berbukit-bukit, tandus, dan curah hujan per tahun hanya tiga bulan. Jika musim hujan yang pendek itu tak cepat dimanfaatkan, hampir pasti kelaparanlah buahnya.

‘Kurang makan’ di daerah ini sudah seperti rutinitas. Itu tak cuma saat dijajah Portugis, Belanda atau setelah merdeka di bawah payung Negara Indonesia. Yang membedakan, saat penjajah dan Orde Baru menguasai daerah ini kabar itu tak terberitakan, tapi ketika Orde Reformasi, warta itu mengalir bak air bah. Santer sekali.

Kelaparan itu di-blow-up habis-habisan. Para politisi besar perhatiannya. Peristiwa yang bagi warga setempat jadi persoalan lumrah itu mencuat ke permukaan. Kelaparan itu berubah jadi pedang tajam. Menebas kepala siapa saja yang diinginkan. Adakah dengan begitu rakyat setempat terbebas dari kelaparan? Ndak juga tuh !

Kelaparan masih laten terjadi di kabupaten ini. Tanda-tandanya gampang dikenali. Jika musim kering tiba naiklah di perbukitan. Dari ketinggian ini akan tampak, adakah asap mengepul dari lopo-lopo (rumah khas setempat) yang dihuni warga itu. Jika tidak kelihatan asap, itu sinyal, bahwa warga yang menempati rumah itu perutnya sedang keroncongan.

Tapi mengapa ‘musik keroncong’ jadi irama rutin? Itu selain faktor alam, ternyata juga faktor manusianya. Warga di daerah ini terbilang malas. Kalau musim hujan tiba, mereka acap menikmatinya dengan jalan-jalan dan berhibur ke pasar. Itu yang membuat Pieter Alexander Tallo kala menjabat sebagai bupati daerah ini menerapkan kebijakan ‘yang tidak manusiawi’.

Sang Bupati yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timor (NTT) dan sekarang sudah pensiun itu melakukan ‘Operasi Cinta Tanah Air’. Jika musim hujan tiba, Sang Bupati dan aparatnya keluyuran di jalan-jalan dan pasar.

Jika berpapasan dengan lelaki warga setempat distop dan ditanyai alasannya jalan-jalan dan ke pasar. Kalau jawabannya untuk lihat-lihat, maka tanpa kompromi warga itu ditangkapnya. Disuruh buka mulut, dipaksa makan tanah, dan kemudian diguyur air.

“Saya Putra Timor. Saya tahu watak mereka. Saya tak ingin kemalasan ini jadi budaya. Saya tak rela warga saya terus-terusan kelaparan akibat sikap malas itu,” kata lelaki yang akrab dipanggil Piet Tallo itu saat kebijakannya diprotes.

Namun benarkah jika ‘budaya malas’ itu terkikis negeri ini akan gemah ripa loh jinawi seperti suratan Empu Tantular dalam Sutasoma? Rasanya kok tidak serta-merta begitu. Sebab ada dua faktor lain yang justru menjadi kunci menuju kesejahteraan dan kegemilangan itu di hari depan.

Pertama adalah tersedianya sumber alam dan energi. Dan kedua penguasaan teknologi. Tanpa dua ‘kekayaan’ ini, sebuah bangsa akan hilang dalam percaturan global. Tak hanya miskin, tapi juga hina dina plus papa.

Tapi bersyukurlah, bangsa ini masih punya masa depan. Itu karena kita punya sumber alam dan energi yang melimpah. Hanya, karena teknologi masih jadi ‘ilmu langka’, maka sementara waktu harus sabar dikadali bangsa lain dan bangsa sendiri yang jadi makelar asing. Tapi sampai kapan itu?



Selengkapnya »»

03 Februari 2009

Stiker Anti Korupsi






Selengkapnya »»

Dasar Pemikiran Kegiatan Lomba Poster dan Seminar Anti Korupsi 3 - 28 Maret 2009

dari korupsi ke korupsi... “Korupsi menghancurkan supremasi hukum, melemahkan tatanan pemerintahan, menggerogoti sendi-sendi demokrasi dan merusak moral bangsa.” (Susilo Bambang Yudhoyono – Presiden Republik Indonesia) “Hukum mati koruptor” (Antasari Azhar – Ketua KPK) “Saya adalah koruptor. Sebagai koruptor saya bangga akan keberadaan saya. Saya adalah koruptor terhormat. Tidak ada yang berani melawan saya, sebab jika mereka melawan saya, saya akan membagikan hasil korupsi saya kepada mereka. Dengan demikian secara bersama kita telah ikut andil untuk melestarikan korupsi. Korupsi telah menjadi bagian dari republik ini, bagian dari identitas bangsa.” (Teater monolog; Jadilah Koruptor -Butet Kertaradjasa - Seniman) ”Kerjaannya tukang buat peraturan. Bikin UUD, ujung-ujungnya duit” (Slank; Album Anti Korupsi- Artis) “Lebih baik makan tanah, daripada makan hasil korupsi” (MERDEKACREATIPE- Tim kreatif Harian Merdeka Perwakilan Jawa Timur) LATAR BELAKANG Maraknya kasus korupsi yang bergeming dalam akhir-akhir ini, diyakini telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya dalam pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara pandang dan perilaku dalam segala aspek kehidupan; politik, ekonomi, dan sosial. Secara dominasi, bidang politik memiliki mimbar dan pengaruh yang kuat dalam peradaban bangsa dan negara Indonesia ke depannya. Empat bulan ke depan (April 2009) akan digelar pemilihan umum legislatif di tingkat daerah atau pusat di seluruh penjuru. Momen ini bertujuan melahirkan para politisi, penguasa dan pemimpin atau wakil rakyat yang akan menduduki kursi jabatan. Dalam kaitanya, MERDEKACREATIPE sengaja ingin menggugah hati nurani para pemimpin atau penguasa dan wakil rakyat terpilih untuk tidak berkorupsi bahkan berani memberantas kasus KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) tanpa diskriminatif. Di lain pihak, MERDEKACREATIPE juga bermaksud memberikan wadah sekaligus menyuntikkan serum anti korupsi kepada generasi muda sejak dini. Adapun serum yang dimaksud di sini adalah pendekatan terhadap publik melalui media visual berupa poster anti korupsi yang dilombakan untuk pelajar dan mahasiswa. Hasil karya tersebut akan dipamerkan dan dipublikasikan sebagai bentuk kampanye anti korupsi. Dan dalam pengembangan, agar kampanye anti korupsi ini benar-benar diilhami, maka MERDEKACREATIPE juga menggelar seminar sehari dengan tema yang sama. TUJUAN Lomba poster dan seminar ini bertujuan menjadi media aspirasi antara pelajar, mahasiswa, para calon wakil rakyat di Pemilihan Legislatif 2009 pada khususnya di Jawa Timur, masyarakat umum/sipil, dan tentunya lembaga-lembaga atau instansi negara atau departemen pemerintah yang selama dinilai sarat akan korupsi, seperti BMUN, Kejaksaan, kepolisian, pemerintahan sipil. VISI DAN MISI Visi Melawan dan memberantas koruptor Misi 1. Membidik peserta Pemilihan Umum Legislatif 2009 agar bisa menerima keluh kesah, kritikan ataupun uneg-uneg masyarakat se- Jatim pada khususnya, se-Indonesia pada umumnya dalam konteks korupsi. 2. Mampu memberikan wadah kreatifitas dan mendidik sejak dini pada generasi muda, khusunya pelajar dan mahasiswa se-Jatim untuk ikut serta dalam kampanye anti korupsi. Minimal, memahami dampak dari bahaya laten korupsi. 3. Menumbuhkan kesadaran dan keberanian ke seleuruh elemen masyarakat untuk turut serta memberantas korupsi. TEMA Merdeka tanpa Korupsi NAMA KEGIATAN Kampanye Anti Korupsi

Pamflet Lomba Poster
Acara Lomba Poster dan Seminar Anti Korupsi terselenggara atas kerjasama Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Jember, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Trunojoyo, Universitas Merdeka Surabaya, Universitas Darul Ulum Lamongan, Universitas Islam Kadiri, Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP