EVENT LOMBA POSTER DAN SEMINAR ANTI KORUPSI MEMBUKA KERJASAMA SPONSORSHIP hub: 031-78189905/ 031-77652411/ 08573 0469 111 email: merdekacreatipe@yahoo.co.id
Tampilkan postingan dengan label Catatan Mas Djoko.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Mas Djoko.... Tampilkan semua postingan

08 Februari 2009

Miskin di Tanah Surga

Ini tanah surga, begitu kata Koes Plus. Kesurgaan itu terletak pada ‘tongkat kayu dan batu’ jadi tanaman. Tapi kenapa warga miskin tak kunjung surut dan kelaparan masih saja terjadi di negeri ini? Kita memang masih mencari jawab, mengapa hidup di ‘tanah surga’ kok masih bisa kelaparan.


Jika mau jalan-jalan menyusuri desa dan kampung di negeri ini, tergambar sebuah skema yang memberi kesan, ada faktor-faktor tertentu penyebab rakyat tetap miskin dan kelaparan. Itu karena ganasnya alam, karena malas, dan ada pula karena sempitnya lapangan kerja.

Untuk kategori pertama dan kedua saya temui di Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Daerah ini berbukit-bukit, tandus, dan curah hujan per tahun hanya tiga bulan. Jika musim hujan yang pendek itu tak cepat dimanfaatkan, hampir pasti kelaparanlah buahnya.

‘Kurang makan’ di daerah ini sudah seperti rutinitas. Itu tak cuma saat dijajah Portugis, Belanda atau setelah merdeka di bawah payung Negara Indonesia. Yang membedakan, saat penjajah dan Orde Baru menguasai daerah ini kabar itu tak terberitakan, tapi ketika Orde Reformasi, warta itu mengalir bak air bah. Santer sekali.

Kelaparan itu di-blow-up habis-habisan. Para politisi besar perhatiannya. Peristiwa yang bagi warga setempat jadi persoalan lumrah itu mencuat ke permukaan. Kelaparan itu berubah jadi pedang tajam. Menebas kepala siapa saja yang diinginkan. Adakah dengan begitu rakyat setempat terbebas dari kelaparan? Ndak juga tuh !

Kelaparan masih laten terjadi di kabupaten ini. Tanda-tandanya gampang dikenali. Jika musim kering tiba naiklah di perbukitan. Dari ketinggian ini akan tampak, adakah asap mengepul dari lopo-lopo (rumah khas setempat) yang dihuni warga itu. Jika tidak kelihatan asap, itu sinyal, bahwa warga yang menempati rumah itu perutnya sedang keroncongan.

Tapi mengapa ‘musik keroncong’ jadi irama rutin? Itu selain faktor alam, ternyata juga faktor manusianya. Warga di daerah ini terbilang malas. Kalau musim hujan tiba, mereka acap menikmatinya dengan jalan-jalan dan berhibur ke pasar. Itu yang membuat Pieter Alexander Tallo kala menjabat sebagai bupati daerah ini menerapkan kebijakan ‘yang tidak manusiawi’.

Sang Bupati yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timor (NTT) dan sekarang sudah pensiun itu melakukan ‘Operasi Cinta Tanah Air’. Jika musim hujan tiba, Sang Bupati dan aparatnya keluyuran di jalan-jalan dan pasar.

Jika berpapasan dengan lelaki warga setempat distop dan ditanyai alasannya jalan-jalan dan ke pasar. Kalau jawabannya untuk lihat-lihat, maka tanpa kompromi warga itu ditangkapnya. Disuruh buka mulut, dipaksa makan tanah, dan kemudian diguyur air.

“Saya Putra Timor. Saya tahu watak mereka. Saya tak ingin kemalasan ini jadi budaya. Saya tak rela warga saya terus-terusan kelaparan akibat sikap malas itu,” kata lelaki yang akrab dipanggil Piet Tallo itu saat kebijakannya diprotes.

Namun benarkah jika ‘budaya malas’ itu terkikis negeri ini akan gemah ripa loh jinawi seperti suratan Empu Tantular dalam Sutasoma? Rasanya kok tidak serta-merta begitu. Sebab ada dua faktor lain yang justru menjadi kunci menuju kesejahteraan dan kegemilangan itu di hari depan.

Pertama adalah tersedianya sumber alam dan energi. Dan kedua penguasaan teknologi. Tanpa dua ‘kekayaan’ ini, sebuah bangsa akan hilang dalam percaturan global. Tak hanya miskin, tapi juga hina dina plus papa.

Tapi bersyukurlah, bangsa ini masih punya masa depan. Itu karena kita punya sumber alam dan energi yang melimpah. Hanya, karena teknologi masih jadi ‘ilmu langka’, maka sementara waktu harus sabar dikadali bangsa lain dan bangsa sendiri yang jadi makelar asing. Tapi sampai kapan itu?



Selengkapnya »»

29 Januari 2009

Caleg Itu Calon Legrek

Para pembesar kini ramai-ramai masuk desa. Dia mendadak dermawan dan tabiatnya berubah frontal menjadi manusia paling ramah. Siapa saja yang ditemui disapa dan diajak bicara. Tidak lupa salam tempel sebelum berpisah, amplop berisi duit. Apakah semurah itu ‘harga’ rakyat? Nanti dulu.

Di desa-desa itu rakyat memang dengan senang hati menerima pemberian itu. Mereka mengucap dukungan juga simpati. Itu ketika sang calon wakil rakyat masih berdekat-dekat. Namun ketika dermawan dadakan itu hilang dari pandangan, maka sinisme rakyat kembali muncul. Dia menyebut orang yang habis memberinya uang adalah ‘calon legrek’. Plesetan dari akronim calon legislatif.

Kenapa calon wakil rakyat itu disebut sebagai calon legrek? Calon manusia yang rusak fisik, bakal melarat jika tidak jadi, dan sosok manusia rusak iman ketika kelak menduduki jabatan sebagai wakil rakyat?

Itu tidak lepas dari sikap wakil rakyat saat ‘memerintah’ dan ketika kini maju lagi mencalonkan diri. Rakyat telah ‘diberi’ pelajaran berharga. Para politisi itu hanya berbaik-baik ketika mendekati pemilihan umum tiba. Namun tatkala dukungan sudah diberikan, ternyata rakyat tidak pernah ‘disentuh’, apalagi diperjuangkan nasibnya. Para elit partai itu asyik ongkang-ongkang menikmati berbagai fasilitas. Malah korupsi jika ada kesempatan.

Legrek memang bermakna rusak parah. Itu logis. Sebab calon wakil rakyat itu akan rusak tubuhnya karena digerogoti penyakit akibat lelah kampanye yang tidak biasa dilakukan. Rusak kantong karena terus menguras uang yang ada dalam tabungan atau hasil utangan. Dan itu yang sekaligus membuat rakyat berkesimpulan, sang calon juga bakal rusak akhlak saat jabatan wakil rakyat sudah disandang.

Caleg yang disebut ‘calon legrek’ itu adalah sama dan sebangun dengan kandidat orang susah yang menyusahkan. Orang yang bakal melarat dan sakit-sakitan jika gagal dipilih. Juga bakal menjadi ‘calon pemimpin yang menyusahkan’ ketika berhasil meraih jabatan.

Asumsi semacam itu tidak salah. Sebab realitasnya calon wakil rakyat selama ini memang seperti itu. Dia menghambur-hamburkan harta hanya demi menggaet simpati rakyat. Dia menguras tenaga, blusukan masuk kampung keluar desa agar dikenal namanya, partainya, juga nomor urut yang harus dicontreng. Dan ini yang diasumsikan ujungnya akan berakhir pada ‘gosip jalanan’ Slank. Mencari duit dengan berbagai cara untuk mengembalikan ‘modal’ yang sudah ditebar.

Gambaran kelam itu yang hari-hari ini meresahkan para calon wakil rakyat itu. Mereka seperti berjudi, yang kans kalah lebih tinggi dibanding menang. Itu terpancar dari muka-muka mereka yang tak lagi bersih dan sumringah (berbinar-binar).

Para calon wakil rakyat itu rata-rata sekarang ini lusuh dan lelah. Malah ada yang berpenampilan seperti orang gila. Kemana-mana membawa organ tunggal plus penyanyi, yang dilengkapi halo-halo dan teriakan agitatif juru kampanyenya. Itu yang meyakinkan, bahwa sebutan sebagai ‘calon legrek’ kemungkinan besar menjadi kenyataan. Calon orang susah itu yang sekarang sibuk anjangsana, menghiba rakyat agar memilihnya.

Adakah politik transaksional dan politik uang ini juga berdampak jelek terhadap rakyat di hari depan?

Tentu ya. Tapi berdasar pengalaman togel ‘halal’, maka ada sisi positif yang bisa dirasakan. Rakyat di desa-desa sekarang ini tiba-tiba punya hobi baru suka mengadakan rapat dan diskusi. Sering istigotsah, juga menghibur diri nanggap campursari atau wayang kulit semalaman.

Inilah pesta rakyat yang sebenar-benarnya. Bukan saat pemilu tiba, atau ketika penghitungan suara dan diketahui yang kalah dan pemenangnya.



Selengkapnya »»

22 Januari 2009

JK & Politik Permen Asam

Partai Golkar mendekati ‘ambruk’. Namun begitu, ternyata masih banyak yang duduk manis sambil menunggu keajaiban tiba. Bukan beringin memenangi pemilu, tapi menanti jabatan Ketua Umum Golkar diserahkan Jusuf Kalla (JK) secara sukarela. Apakah mungkin? Mungkin saja !

Memang harapan macam itu yang kini bergelayut di benak segelintir elit Golkar. Pendeknya waktu menjelang contrengan dan kekurangsiapan partai ini dalam pemilu kali ini telah melahirkan keraguan massal. Ragu berhasil menang dalam pemilu, dan ragu partai ini bisa dipakai alat bargaining. Itu alasan kenapa partai ini disebut sedang memasuki ambang senja.

Partai yang pernah gemilang itu kini tidak kinclong lagi. Pangkal soalnya, selain elit partainya berhamburan membentuk partai baru, dan sebagian lagi sibuk mendandani diri sendiri, juga karena ‘salah kelola’ yang dipraktikkan ketua umumnya. Adakah dengan begitu elit yang tersisa itu loyalis Pohon Beringin? Martir yang siap ‘dikambing-hitamkan’ sebagai politisi gagal?

Partai Golkar memang semakin kelihatan rapuh. Daun-daunnya berguguran tertiup angin Partai Demokrat dan PDI Perjuangan. Sedang rantingnya meranggas, patah satu demi satu dipakai pembangkit semangat di Hanura dan Gerindra. ‘Kondisi alam’ yang tak berpihak pada partai yang pernah ‘mengayomi’ persada Nusantara itu membuat beringin tergolek tanpa daya.

Partai yang terus memperoleh nilai jeblok di lembaga survei itu akhirnya harus siap menunggu nasib. Nasib yang membawanya ke jurang kejatuhan yang tidak terbayangkan. Rasa cemas dan was-was melanda seluruh jajaran partai ini. Para elit dibenturkan pada pilihan sulit. Terus berjuang dengan hasil ‘cebol merindukan bulan’. Atau kabur sebelum beringin ‘tumbang’.

Di tengah situasi itu segelintir elit tetap bertahan. Mereka menikmati buah simalakama. Mencernanya dengan perasaan berdebar-debar. Dan berharap ada kemenangan lain kendati Golkar kalah. ‘Golkar tulen’ itu yang sekarang mengadu peruntungan di tengah amukan badai yang merontokkan keperkasaan beringin. Mereka pun menggagas Munaslub agar dalam tempo singkat Partai Golkar bisa berdenyut kembali. Benarkah ini bentuk pengabdian terhadap partai?

Loyalitas memang penting. Tapi loyalitas dalam partai perlu dipertanyakan. Perpolitikan kita sudah lama kehilangan etika. Cash and carry dipraktekkan sehari-hari. Dan janji uang, upeti serta jabatan jadi tak terkendali. Adakah para elit ini tetap bertahan dan tidak hengkang dari Golkar karena janji-janji?

Coba saja masuk ke kubu Agung Laksono. Ketua DPR-RI ini secara matematis, harusnya berkibar di Golkar. Dia punya kapasitas untuk meluruskan jalan beringin yang berkelok-kelok. Tapi itu tidak terjadi. Ini artinya, JK tidak mempercayai Agung yang ‘kebetulan’ punya record ‘suka menyalib di tikungan’.

Tokoh kedua yang punya kans untuk ‘membangun’ kembali beringin adalah Surya Paloh. Orator ini dinamis dan ‘suka slonong boy’, serta lincah dalam memainkan peran yang menyentak siapa saja. Jika laki-laki ini diberi peran di detik-detik terakhir ini, mungkin nama Golkar yang mulai ‘terlupakan’ bisa sedikit didongkrak.

Figur ketiga yang diberi ‘permen rasa asam’ adalah Aburizal Bakrie. Dia tidak perlu ditanyakan dedikasi dan kemampuannya terhadap beringin. Namun mengingat penampilannya yang lembayung, rasa-rasanya Ical bukan sosok yang pas di tengah situasi yang mementingkan heroisme dan agitasi.

Tapi benarkah JK bakal meniru Harmoko yang menyerahkan jabatan Ketua Umum Golkar secara legowo? Skenarionya memang begitu. Jabatan itu dilepas bukan karena ditekan-tekan, tapi karena kebesaran jiwa sang ketua umum yang dilambari hasrat mulia agar Golkar eksis dan berjaya.

Politik bagi-bagi permen ternyata gampang mengikat kader Golkar bertahan. Tentu sambil menanti kapan jabatan ketua umum dilepaskan ‘pemiliknya’.

Selengkapnya »»

19 Januari 2009

Negeri Badut & Pencopet

Premium langka. Antrian panjang di SPBU tiba-tiba jadi pemandangan lumrah. Dan gas? Wah, jangan tanya lagi. Sulit karena sirna dari peredaran. Ini yang membuat ibu-ibu rumahtangga kelabakan. Mereka memaki-maki yang ujung-ujungnya diarahkan ke pemerintah. “Kompor minyak suruh ganti kompor gas, sekarang gasnya tidak bisa dibeli. Negara apa ini kok selalu bikin susah.”

Yah, inilah tragik-komedi negeri ini. Negeri gelak tawa yang didominasi badut berprofesi ganda. Membuat lelucon yang menguras airmata, sambil sesekali nyopet hak rakyat bawah. Kehidupan nyata diperlakukan seperti panggung sandiwara, dan kalau ada kesempatan sedikit saja, jatah rakyat pun dijarah.

Memang tragis. rakyat kecil selalu jadi obyek penderita. Dipaksa berperan sebagai ‘aktor komedi’ sekaligus ‘korban pencopetan’. Mereka digiring untuk ‘melawak’ bersama, ‘baris-berbaris’ di halaman SPBU.

Sedang di kampung-kampung, ‘komedi’ sejenis juga digelar. Yang dicasting sebagai pemeran adalah ibu-ibu rumahtangga. Mereka dibuat panik. Nabrak kanan kiri mirip gabah diinteri. Juga telepon ke sana-ke mari. Tujuannya satu memburu LPG bersubsidi yang hilang dari pasaran. Siapakah gerangan yang berulah? Dialah ‘tukang copet elit’ yang berasal dari kalangan industri.

Premium sulit dibeli alasannya memang rada-rada logis. Karena harganya diayun-ayunkan pemerintah, naik turun secara maraton, pengusaha SPBU pun uring-uringan. Mereka tak mau merugi kendati sudah bertahun-tahun menangguk untung. Fluktuasi harga membuat mereka enggan order. Tempat penjualan premium ‘dikosongi’.

Ulah nakal beberapa pengusaha SPBU itu membuat kelangkaan premium di banyak daerah. Ditambah sistem distribusi Pertamina yang kurang maksimal, lengkap sudah derita rakyat. Mereka poyang-payingan memburu bensin. Dan seluruh daerah di negeri ini aktifitas tumplek blek antri BBM.

Jika kelangkaan premium gara-garanya ‘simpel’ macam itu, ternyata tidak demikian dengan gas yang kini menjadi kebutuhan pokok itu. Pasokan dari pemerintah sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tapi stok itu menjadi kurang tatkala ‘copet-copet berdasi’ ikut berebut hak rakyat. Gas bersubsidi pun hilang dari peredaran.

Semula hanya gas tabung berat 17 kilogram yang raib dari pasaran. Setelah itu disusul gas tabung ukuran kecil yang sirna. Rakyat bawah pun menjerit. Mereka tak berdaya menghidupkan kompor di rumah. Siapakah gerangan yang rakus melahap gas seberat 3 kilogram itu? Siapa lagi kalau bukan ‘copet-copet kakap’ yang beroperasi bak kapal keruk itu.

Soal distribusi dan sosialisasi, pemerintah memang lemah. Itu terjadi tak cuma di sektor minyak dan gas. Soal pupuk saja yang sudah puluhan tahun jadi urat nadi pertanian masih terus terkendala. Sering langka dan hilang dari pasar yang menimbulkan histeria para petani. Jadi jangan heran jika program ‘kompor-gasisasi’ yang baru seumur jagung ‘dipaksakan’ itu ruwet dan membuat rakyat mumet.

Pemerintah, utamanya Pertamina harus berbenah. Jangan seperti ‘penguasa’ yang duduk di menara gading. Servis dan pelayanan terhadap konsumen amatlah penting. Itu kalau tidak ingin pontang-panting menghadapi pasar bebas yang sebentar lagi berlaku efektif.

Djoko Su'ud Sukahar

Selengkapnya »»

17 Januari 2009

Hentikan Perang Palestina, Ya Allah

Anak-anak kecil itu berlarian di antara mesin-mesin pencabut nyawa. Anak-anak itu menjerit dan bertangisan ketakutan. Tatkala mereka dihajar peluru, tubuh mereka limbung bermandi darah. Dia meregang nyawa. Meninggal dengan sejuta tanya. Tanpa tahu penyebab Israel membinasakan bangsanya.

Tubuh-tubuh kecil itu berserakan di sepanjang jalan. Wajahnya yang polos menerbitkan rasa iba. Dalam dekapan sang ayah dan ibundanya terkasih, bocah-bocah itu matanya meredup sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Di kelopak matanya tergenang sebuah telaga. Kubangan air jernih yang berasal dari rasa sakit sebelum mati, dan ketidaksiapan berpisah dengan ibunda tercinta.

Pemandangan yang menyayat hati itu tidak henti hingga hari ini. Israel secara keji menyapu bersih wilayah Palestina. Kecanggihan alat perang dipakai untuk ‘menghapus’ sebuah bangsa. Bangsa yang ternista. Bangsa yang dari masa ke masa jadi musafir akibat terusir dari negerinya sendiri.

Perang Israel-Palestina bagi saya menumbuhkan heroisme. Heroisme batin. Sebab patriotisme itu menggugah keimanan kita untuk melakukan jalan yang sama dalam menuju hari akhir yang dijanjikan Allah. Ini adalah jihad. Jalan menuju hidup langgeng yang damai dan indah, yang diidam-idamkan setiap manusia beriman.

Itu pula yang membuat mata saya sembab dengan hati berbunga, saban melihat korban dewasa berjatuhan di pihak Palestina. Saya tidak yakin Palestina menang perang. Tapi saya sangat yakin, insyaallah Gusti Allah memberi tempat yang layak bagi para pejuang itu. Allahu akbar, betapa indahnya kematian itu.

Namun ketika melihat mayat anak-anak tidak berdosa itu bergelimpangan, airmata ini tak mampu dibendung. Airmata itu mengalir deras diikuti rasa sakit di hati. Tusukan sembilu itu mengoyak-oyak batin. Dan sambil berurai airmata, tidak sadar segala doa saya panjatkan bagi mereka. Saya lupa, bahwa Allah telah menjanjikan surga baginya.

Anak memang bukan ‘milik’ kita. Anak adalah titipan dari Kang Nggawe Urip. Titipan dari Yang Membuat Hidup. Titipan itu memberi kontribusi kita dalam kehidupan mendatang. Memberi keringanan. Juga ‘keberatan’ saat menyatu dengan Sang Khalik. Itu pula yang membuat Rabiah Al-Adawiyyah sengit terhadap ‘pembantunya’, tatkala wanita itu terlalu sayang dan terlalu mengasihi anaknya.

Khalil Gibran pun dengan liris mengamini itu. Anak diibaratkannya seperti anak panah. Ketika masih menyatu dengan busurnya, anak itu masih dalam ‘kekuasaan’ orangtua. Tapi ketika anak panah itu sudah lepas dari busurnya, maka ‘anak’ itu bukan lagi menjadi ‘anak kita’. Dia meluncur ‘begitu saja’. Dia ditakdirkan sesuai keinginan kita atau tidak bukan lagi urusan manusia. Itu urusan Gusti Allah. Ini yang dinamakan takdir.

Adakah anak-anak Palestina itu ditakdirkan mati seperti itu Ya Allah? Adakah tangis bagi mereka ini tanda lemahnya imanku Ya Allah? Adakah doa ini kepicikan nalarku yang masih rendah dalam memahami kehendakMu Ya Allah? Naudzubillahi mindzalik !

Tolong hentikan perang ini Ya Allah, biarpun aku tahu itu adalah jalan yang sempurna menyatu dengan-Mu. Tolong sudahi tragedi kemanusiaan dan pembantaian ini Ya Allah, kendati anak-anak itu nanti menjemput ayah-bundanya di pintu surga seperti yang Engkau janjikan.

Kabulkan doa ini Ya Allah, agar batin dan pikiranku tidak terus dirongrong rasa sakit. Pada siapa lagi aku menyembah dan meminta selain kepadaMu Ya Allah. Amin !

* Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati budaya.

Selengkapnya »»


Dasar Pemikiran Kegiatan Lomba Poster dan Seminar Anti Korupsi 3 - 28 Maret 2009

dari korupsi ke korupsi... “Korupsi menghancurkan supremasi hukum, melemahkan tatanan pemerintahan, menggerogoti sendi-sendi demokrasi dan merusak moral bangsa.” (Susilo Bambang Yudhoyono – Presiden Republik Indonesia) “Hukum mati koruptor” (Antasari Azhar – Ketua KPK) “Saya adalah koruptor. Sebagai koruptor saya bangga akan keberadaan saya. Saya adalah koruptor terhormat. Tidak ada yang berani melawan saya, sebab jika mereka melawan saya, saya akan membagikan hasil korupsi saya kepada mereka. Dengan demikian secara bersama kita telah ikut andil untuk melestarikan korupsi. Korupsi telah menjadi bagian dari republik ini, bagian dari identitas bangsa.” (Teater monolog; Jadilah Koruptor -Butet Kertaradjasa - Seniman) ”Kerjaannya tukang buat peraturan. Bikin UUD, ujung-ujungnya duit” (Slank; Album Anti Korupsi- Artis) “Lebih baik makan tanah, daripada makan hasil korupsi” (MERDEKACREATIPE- Tim kreatif Harian Merdeka Perwakilan Jawa Timur) LATAR BELAKANG Maraknya kasus korupsi yang bergeming dalam akhir-akhir ini, diyakini telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya dalam pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara pandang dan perilaku dalam segala aspek kehidupan; politik, ekonomi, dan sosial. Secara dominasi, bidang politik memiliki mimbar dan pengaruh yang kuat dalam peradaban bangsa dan negara Indonesia ke depannya. Empat bulan ke depan (April 2009) akan digelar pemilihan umum legislatif di tingkat daerah atau pusat di seluruh penjuru. Momen ini bertujuan melahirkan para politisi, penguasa dan pemimpin atau wakil rakyat yang akan menduduki kursi jabatan. Dalam kaitanya, MERDEKACREATIPE sengaja ingin menggugah hati nurani para pemimpin atau penguasa dan wakil rakyat terpilih untuk tidak berkorupsi bahkan berani memberantas kasus KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) tanpa diskriminatif. Di lain pihak, MERDEKACREATIPE juga bermaksud memberikan wadah sekaligus menyuntikkan serum anti korupsi kepada generasi muda sejak dini. Adapun serum yang dimaksud di sini adalah pendekatan terhadap publik melalui media visual berupa poster anti korupsi yang dilombakan untuk pelajar dan mahasiswa. Hasil karya tersebut akan dipamerkan dan dipublikasikan sebagai bentuk kampanye anti korupsi. Dan dalam pengembangan, agar kampanye anti korupsi ini benar-benar diilhami, maka MERDEKACREATIPE juga menggelar seminar sehari dengan tema yang sama. TUJUAN Lomba poster dan seminar ini bertujuan menjadi media aspirasi antara pelajar, mahasiswa, para calon wakil rakyat di Pemilihan Legislatif 2009 pada khususnya di Jawa Timur, masyarakat umum/sipil, dan tentunya lembaga-lembaga atau instansi negara atau departemen pemerintah yang selama dinilai sarat akan korupsi, seperti BMUN, Kejaksaan, kepolisian, pemerintahan sipil. VISI DAN MISI Visi Melawan dan memberantas koruptor Misi 1. Membidik peserta Pemilihan Umum Legislatif 2009 agar bisa menerima keluh kesah, kritikan ataupun uneg-uneg masyarakat se- Jatim pada khususnya, se-Indonesia pada umumnya dalam konteks korupsi. 2. Mampu memberikan wadah kreatifitas dan mendidik sejak dini pada generasi muda, khusunya pelajar dan mahasiswa se-Jatim untuk ikut serta dalam kampanye anti korupsi. Minimal, memahami dampak dari bahaya laten korupsi. 3. Menumbuhkan kesadaran dan keberanian ke seleuruh elemen masyarakat untuk turut serta memberantas korupsi. TEMA Merdeka tanpa Korupsi NAMA KEGIATAN Kampanye Anti Korupsi

Pamflet Lomba Poster



Acara Lomba Poster dan Seminar Anti Korupsi terselenggara atas kerjasama Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Jember, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Trunojoyo, Universitas Merdeka Surabaya, Universitas Darul Ulum Lamongan, Universitas Islam Kadiri, Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP